Tahun 2020 Siap Tuntaskan Stunting dan ODF

Bupati Demak HM. Natsir, Mranggen ditargetkan siap menuntaskan stunting dan Open Defecation Free atau ODF (foto: pemkab demak)

Mranggen- Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak yaitu tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Penyebabnya adalah karena kurangnya asupan gizi anak dalam jangka waktu lama. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), angka stunting yang terjadi di Indonesia 2018 mencapai 30,8 persen. Angka tersebut mengalami penurunan dari 37,2 persen pada 2013.

Pada tahun 2020 seluruh kepala desa se-Kecamatan Mranggen ditargetkan siap menuntaskan stunting dan ODF (Open Defecation Free) atau stop buang air besar sembarangan di wilayahnya masing-masing. Hal itu diungkapkan oleh Bupati Demak HM. Natsir saat kegiatan refreshing kader posyandu peduli stunting di Aula Kecamatan mranggen, Senin (21/10/2019).

Ia berharap para kader posyandu dapat memahami peran dan fungsinya sebagai ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Di Kabupaten Demak terdapat 1.500 lebih posyandu yang aktif melakukan berbagai kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.

Diharapkan usai dilaksanakannya kegiatan tersebut, para kader dapat lebih meningkatkan kapasitas, kemampuan dan pemahaman dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat utamanya dalam mencegah dan menekan angka stunting di Kabupaten Demak, khususnya di Kecamatan Mranggen.

Natsir sadar bahwa penuntasan stunting dimulai dari perbaikan gizi. “Manakala ada perbaikan gizi, pasti tidak ada stunting. Manakala anak-anak perkembangannya sehat, bugar, ceria, berarti ibu-ibu sudah melaksanakan tugas dan perannya dengan baik,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinpermades P2KB) Kabupaten Demak Drs. Daryanto, MM. Mengatakan kegiatan refreshing kader posyandu ini akan dilaksanakan di 14 kecamatan, masing-masing desa mengirimkan 3 orang yakni ketua TP PKK Desa, kader pembangunan manusia dan ketua posyandu. “Jadi seluruhnya ada 747 orang yang akan mengukuti 14 kali refreshing kader posyandu di 14 kecamatan,” ujarnya.

Mengatasi Stunting dengan Pola Asuh dan Pola Makan

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih”, tutur Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok, di Jakarta (7/4/2018).

Salah satu penyebab masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Istilah “Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita dapat memberikan resiko stunting yang tinggi. Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan usahakan agar bayi mendapat air susu ibu (ASI). Beri bayi ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Akses sanitasi dan air bersih yang buruk, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

“Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi”, tambahnya.

Program Pencegahan Stunting dari Mahasiswa

Tim mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) membuat program bernama Gemasting (Gerakan Masyarakat Sadar Stunting Berbasis Smart Education). Mereka adalah Aenyfatchu Rohmah, Nurjanah, Imalahur Rosada, Jihan Eka Aprilia, dan Olin Aulia Yunia dengan dosen Pembimbing Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc. Program  tersebut dilakukan di salah satu desa di Kabupaten Bogor.

Gemasting memiliki program antara lain smart indication, smart parenting, smart nutrition, smart cooking, dan konsultasi gizi. Program yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, rasa kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai stunting, serta meningkatkan kreativitas masyarakat dalam upaya pencegahan stunting melalui pengolahan bahan pangan bergizi berbasis sumber daya pangan lokal.

Gemasting fokus pada pemahaman mengenai gizi, pola asuh, dan pengolahan pangan yang menjadi salah satu pengaruh terjadinya stunting. Sasaran dari Gemasting yaitu Wanita Usia Subur (WUS), ibu hamil dan ibu balita.

Hasil dari Gemasting sendiri yaitu adanya buku panduan pelaksanaan program yang dapat dijadikan pedoman oleh daerah lain dan terbentuknya cakram gizi dengan susunan makanan yang sesuai dengan sumber daya pangan lokal yang ada. Sehingga masyarakat dapat mengetahui status gizi dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Add Comment