UMKM Mijen Mendunia

Ibu rumah tangga sedang melakukan pembuatan perhiasan. PEMPROV JATENG

MIJEN, Kebonagung | UMKM Merupakan sebuah jenis usaha yang sistemnya memisahkan berdasarkan kriteria aset, omset, dan kriteria berdasarkan UU No.20 Tahun 20 Tahun 2008 tentang UMKM, yakni: 1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro. Kriteria aset maksimal sebesar Rp50 juta, kriteria omset maksimal sebesar Rp300 juta. 2) usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang yang dilakukan oleh perorangan atau badan

usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil. Kriteria aset berkisar antara Rp 50 juta sampai Rp 500 juta, kriteria omset berkisar antara Rp 3000 juta sampai Rp2,5 miliar 3) usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang memiliki aset berkisar Rp 500 juta sampai Rp10 miliar, kriteria omset berkisar lebih dari Rp2,5 miliar sampai Rp50 miliar.

Berdasarkan perkembangannya di indonesia, UMKM dapat dibedakan menjadi 4 kriteria yaitu: 1) live libood activities yang merupakan UKM yang membuka kesempatan kerja, kriteria ini lebih umum dikenal sebagai pedagang kaki lima 2) micro enterprise yang merupakan UKM yang memenuhi kriteria sebagai pengrajin tetapi belum sebagai kewirausahaan 3) small dynamic enterprise yang merupakan UKM yang telah bersifat kewirausahaan dan telah mampu mengerjakan subkontrak dan ekspor atau dalam kata lain telah berkembang cukup besar dan yang terakhir adalah 4) fast moving enterprise yang merupakan UKM yang telah bersifat kewirausahaan dan dapat terpromosikan sebagai Usaha Besar.

Di sebuah rumah yang terletak di RT 4 RW 1 Desa Mijen Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak terdapat UMKM yang bergerak di bidang pembuatan perhiasan perak Zem Silver. UMKM tersebut setiap harinya memberdayakan ibu-ibu yang berada di kawasan tersebut.

Setiap paginya mereka semangat untuk mengerjakan pembuatan bros dan ragam jenis-jenis perhiasan lainnya. “Ketimbang menganggur di rumah, enakan kerja seperti ini, mas,” ucap Sumiyati, dengan logat khas Demak, sembari membuat perhiasan dengan ulet.

Sumiyati berujar, setiap hari dia dapat mengerjakan pesanan 10 biji aksesoris perhiasan mulia bros, untaian kalung dan sejenisnya. Baginya ini adalah pekerjaan sampingan agar kebutuhan pokoknya dapat terpenuhi. “Sehari dapat upah Rp 50 ribu. Sudah mendingan bisa buat uang belanja tambahan,” paparnya. Seperti dikutip Humas Jateng

Hal yang sama juga disampaikan Mudrikah, buruh perhiasan perak lainnya. Butuh ketelatenan tinggi untuk mengerjakan pesanan dengan hasil kualitas terbaik. Agar hasilnya bagus, maka ia menjelaskan wajib teliti memasang untaian benang logam yang didapatkannya dari limbah pabrik. “Ini lagi bikin isian buat bros. Kesulitannya kalau pas pasang kabel logamnya lepas, saya harus mengulanginya dari awal lagi. Biar bagus dan awet,” jelasnya.

Menurut Mudrikah, kejelian usaha pembuatan perhiasan perak yang ditekuni warga desanya tak lepas dari sosok Ershad. Pria berumur 32 tahun itu merupakan orang yang semangat mendorong ibu-ibu menekuni pembuatan perhiasan perak.

Dengan mendirikan sebuah badan usaha yang bergerak di bidang Usaha, Kecil, dan Menengah (UKM) perhiasan perak, Ershad memulai semuanya dari nol. Dari awalnya mempekerjakan satu hingga dua warga, sekarang jumlah pekerjanya tak kurang dari 30 orang.

“Saya dulunya pilot di perusahaan penerbangan swasta. Tapi saat melihat perekonomian masyarakat disini sangat pas-pasan, kemudian saya putuskan keluar dan pulang desa. Kebetulan istri saya asli desa ini,” ujarnya.

“Pelan-pelan, saya memulai usaha ini memakai sedikit dari tabungan saya, lalu memberdayakan warga supaya bisa bangga jadi perajin. Syukurlah, sampai lima tahun terakhir banyak permintaan perhiasan perak dari luar maupun dalam negeri,” tambahnya.

Dia tak sungkan memperkenalkan pelanggannya yang mampir melihat proses produksi perhiasan peraknya. “Ini salah satu costumer kita dari Galeri Nusantara Jakarta. Mereka sedang melihat wadah keris yang diproduksi di sini,” ujarnya lagi.

Dalam sebulan, diakuinya pesanan rata-rata mencapai 5 hingga 10 ribu perhiasan berbagai macam jenis. Sebuah perhiasan, dia bandrol dengan harga paling murah Rp 80 ribu sampai dengan yang paling mahal Rp4 juta.

Ershad mengungkapkan memilih menekuni bisnis perhiasan perak karena tidak banyak pesaing di indonesia. Praktis, Katanya, sentra industri logam di indonesia Cuma terdapat di Boyolali, Tegal, Yogyakarta dan Bali.

“Jika di daerah tersebut hanya memfokuskan pada satu kerajinan perak misalnya handycraft. Nah kalau di sini, kami siap memproduksi semua produk kerajinan. Mulai perhiasan, wadah keris, bros dan pernak-pernik sampai miniatur hiasan perak bisa diproduksi,” sambungnya.

Ekspor sampai Penjuru Dunia

Karenanya, dia sangat berambisi untuk menguasai pasar domestik maupun menjadi pemain utama di kancah global. Ambisinya itu didasari pada melimpahnya sumber bahan baku logam yang gampang ditemui di wilayah pemukimannya. Ershad menyebut ada banyak pengepul barang bekas yang rutin memasok bahan baku logam kepada dirinya.

“Pengepul logam biasanya datang kemari. Malahan orang yang cari sampah sekitar sini banyak sekali yang memasok logam bekas. Ini tentunya juga sejalan dengan permintaan pesanan yang meningkat pesat selama ini,” terangnya.

Dia mengungkapkan atas jerih payahnya tersebut, Desa Mijen, Kebonagung, akan diresmikan sebagai sentra industri logam oleh Menteri Perindustrian pada saat itu Airlangga Hartanto. Namun, sebagai pelaku usaha mikro, dirinya masih berupaya keras untuk mencari uluran tangan pemerintah agar membantunya memperoleh peralatan produksi yang modern.

“Sebab, karyawan kita masih pakai manual. Kita butuh banyak alat-alat modern lagi untuk menunjang produksi kerajinan logam,” ungkapnya.

Sementara itu, pemilik Galeri Nusantara, Adi Wijaya, mengakui kualitas perhiasan perak yang dihasilkan di Desa Mijen terbilang sangat memuaskan. Dia berpendapat perhiasan buatan warga Desa Mijen booming di Eropa mengingat perilaku orang-orang bule yang menggandrungi perhiasan perak dengan ciri khas nuansa budaya yang sangat kental.

“Orang barat suka pernak pernik khas Jawa. Di sana lagi booming. Makanya, saya selalu pesan kemari untuk diekspor ke Perancis, Belanda dan Suriname,” Katanya

Sedangkan, Daniel Teguh Basuki, selaku manajer pemasaran Galeri Nusantara mengklaim, Perhiasan buatan warga Desa Mijen sempat dipakai seorang kontestan Indonesia yang berlaga dalam ajang Miss Universe. “Kualitasnya bisa menandingi barang ekspor lainnya. Untuk itulah, kita percaya pada kualitas perajinnya,” tuturnya.

Bahan Bacaan

Pusat Data Dan Informasi, Badan Penelitian dan Pembangunan, Pendidikan dan pelatihan , dan Informasi (BALILATFO), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Republik Indonesia. 2019 Inovasi Pengolahan dan Pengelolaan Produk Unggul berbasis Ekonomi Digital di Daerah Tertinggal. Jakarta

Add Comment