Demak Kota Wali, Mengenal Warisan Kesenian Rebana

Masyarakat berlatih menggunakan alat musik rebana./ DINPERPUSAR.DEMAKKAB.GO.ID

Demak– Kesenian dalam berbagai bentuknya diakui menjadi salah satu media untuk dapat menyampaikan maksud dan makna tertentu. Melalui muatan kesenian pesan yang mendalam dan bermakna kuat dapat ditampilkan dan disampaikan dengan cara yang lebih sederhana. Dengan media kesenian secara tersirat berbagai pesan dapat disampaikan dalam banyak jenis dan bentuknya.

Tidak mengherankan bila di masa lalu banyak bentuk kesenian yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat selain sebagai hiburan juga untuk menyampaikan suatu pesan.

Dalam konteks penyebaran agama Islam di Pulau Jawa tentu sudah tidak asing dengan berbagai media kesenian. Karena memang kesenian disadari sebagai media yang cukup efektif dalam menarik minat masyarakat untuk berkumpul, serta juga untuk menyampaikan pesan dakwah yang mudah diingat dan dipahami rakyat kala itu.

Salah satu alat musik yang memiliki peranan dalam melakukan dakwah di masa lalu adalah alat musik rebana. Suara tabuhan rebana sering digunakan untuk mengiringi lantunan pujian-pujian bernuansa Islam dalam berbagai perayaan hari-hari besar Islam. Rebana menjadi instrumen media alat musik yang dapat mengiringi ritme lantunan yang khas dari sebuah kesenian.

Rebana adalah alat musik gendang berbentuk bundar dan pipih dengan bingkai lingkaran kayu yang dibubut. Pada sisi yang ditabuh atau ditepuk menggunakan bahan kulit kambing yang telah dikeringkan.

Dalam sejarahnya rebana merupakan salah satu alat kesenian yang digunakan Sunan Kalijaga dalam syiar agama Islam yang dilakukannya di tanah Jawa. Selain menggunakan media kesenian wayang, Kanjeng Sunan Kalijaga juga sering berdakwah dengan menggunakan rebana termasuk ketika berkeliling mengembara. Rebana dijadikan media pengiring dalam menyampaikan kisah atau cerita dakwah yang disampaikan kepada masyarakat.

Sunan Kalijaga memang terkenal sebagai anggota Walisongo yang bukan hanya piawai sebagai pendakwah tetapi juga seniman dan budayawan. Sehingga banyak peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga yang bernilai budaya kesenian yang masih dilestarikan dan dapat ditemui hingga saat ini.

Banyaknya peninggalan bernilai kesenian yang sarat akan makna sejarah yang ditinggalkan oleh Sunan Kalijaga tidak terlepas dari metode dakwah yang digunakannya. Pada masanya berdakwah Sunan Kalijaga termasuk anggota Dewan Dakwah Walisongo yang turut serta membangun Masjid Agung Demak. Sehingga Kabupaten Demak memiliki identifikasi kuat sebagai daerah dari proses tradisi awal Islam di tanah Jawa.

Masjid Agung Demak sendiri hingga saat ini masih berfungsi dan digunakan sebagai tempat beribadah umat Islam. Nilai sejarah yang panjang dan begitu kuat dari bangunan Masjid Agung Demak penting untuk diketahui guna menambah khasanah pengetahuan anak bangsa tentang sejarah bangsanya. Rasanya kurang sempurna bila berkunjung atau melewati Kabupaten Demak tanpa singgah dan beribadah sholat di Masjid Agung Demak bagi kaum muslim.

Kabupaten Demak yang sering dijuluki sebagai Kota Wali memang menjadi daerah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Maklum karena di Demak di masa lalu pernah berdiri Kerajaan Islam Demak Bintoro yang didirikan oleh Raden Fatah. Kerajaan Demak dalam sebagian tafsir sejarah berdiri dalam bagian upaya Dewan Dakwah Walisongo untuk memudahkan dalam mensyiarkan ajaran Islam.

Kampung Rebana

Di Kabupaten Demak ada kampung yang biasa disebut sebagai Kampung Rebana atau Kampung Terbangan yaitu Kampung Tanubayan yang ada di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak. Terbangan sendiri merupakan penyebutan lain untuk alat musik rebana yang lebih populer di beberapa tempat termasuk di Kabupaten Demak sendiri.

Kampung Tanubayan dapat dikatakan termasuk kampung sentra pembuatan alat musik rebana. Menurut ceritanya sosok yang memperkenalkan rebana di Kampung Tanubayan adalah Mbah Muslih yang telah menjadi pengrajin rebana sejak tahun 1940-an yang kemudian diturunkan kepada anak keturunannya sampai sekarang.

Penggunaan alat musik rebana sering dimainkan dalam berbagai acara seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Qasidah, pengiring Sholawatan, ataupun di acara pernikahan. Rebana sejatinya juga dapat dipadukan dengan alat musik modern seperti gitar dan piano.

Eksistensi rebana sebagai alat kesenian maupun sebagai benda yang memiliki nilai sejarah penting untuk terus dilestarikan. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menggelar event yang menghadirkan pentas musik rebana atau menggelar lomba rebana. Pemerintah Kabupaten Demak dalam rangka menjaga eksistensi rebana dan sebagai apresiasi serta komitmen menjaga warisan budaya pernah menggelar lomba rebana yang diselenggarakan pada tahun 2021 yang lalu.

Di sisi yang lain apresiasi terhadap kerajinan rebana juga turut diberikan oleh pihak lain di luar Kabupaten Demak. Pada akhir tahun 2021 yang lalu kerajinan bedug rebana Demak meraih penghargaan pada kategori belanja terbaik dalam acara Malam Anugerah Pesona Indonesia (API 2021). Hal ini menegaskan bahwa rebana selain memiliki nilai sejarah juga masih tetap mampu eksis hingga zaman sekarang.

Add Comment