Demak Kota Wisata Religi, Sejarah Islam di Tanah Jawa

Masjid Agung Demak./DEMAKKAB.GO.ID/

Demak- Mengenal suatu daerah di masa kini tidak lengkap bila tidak mengenal sejarahnya di masa lalu. Tentang sejarah nama, asal usul berdirinya daerah, pendiri cikal bakal daerah ataupun sejarah lainnya. Perkembangan wilayah yang berubah secara area geografis ataupun nama wilayah sudah lumrah dan sering terjadi. Dengan nama yang sama pada batas wilayah tertentu yang ada di masa lalu dengan yang ada sekarang sangat mungkin terjadi perbedaannya.

Nama Demak sudah tidak asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Dalam sejarah bangsa Indonesia nama Demak memiliki rangkaian sejarah panjang baik sebagai sebuah daerah ataupun kehidupan sosial yang pernah terjadi di daerah tersebut. Paling kuat mengenai Demak dalam catatan sejarah adalah pada bagian penyebaran agama Islam di tanah Jawa yang di dalamnya menyangkut Kesultanan Demak Bintoro ataupun jejak dakwah Dewan Walisongo.

Dalam buku pelajaran sejarah di sekolah juga tidak ketinggalan tentang Kerajaan Demak Bintoro sebagai kerajaan Islam besar di masa lampau. Raden Fatah sebagai sultan yang pertama masih merupakan keturunan Prabu Brawijaya V atau Prabu Kertabumi Raja terakhir Kerajaan Majapahit. Dikukuhkannya Raden Fatah sebagai Sultan Demak menandai keudukannya sebagai penguasa baru di tanah Jawa sekaligus menegaskan kedudukan secara politik bahwa Demak menjadi wilayah yang berdaulat dan tidak berada di bawah pemerintahan manapun.

Jejak sejarah Demak di era Kesultanan Demak terus semakin kuat dengan kedudukan Dewan Dakwah Walisongo yang diyakini sebaga ulama waliyullah penyebar agama Islam khususnya di Pulau Jawa. Walisongo yang merupakan perkumpulan dewan para wali yang tidak hanya menjalankan misi dakwah tetapi juga menjadi penasihat dari Kesultanan Demak Bintoro. Hubungan antara Walisongo dengan Kesultanan Demak memang sangatlah kuat baik dalam dimensi sosial, politik ataupun agenda syiar Islam.

Keterikatan hubungan antara Kesultanan Demak dengan Walisongo di kemudian hari menjadi catatan sejarah yang meneguhkan identitas daerah Demak sebagai titik penting kesejarahan Islam di tanah Jawa. Peninggalan seperti Masjid Agung Demak yang dibangun oleh Walisongo menjadi salah satu bangunan monumental yang sarat akan nilai sejarah, makna dan tentu saja fungsinya hingga sekarang masih digunakan.

Dengan nilai kesejarahan yang begitu kuat tentang Islam di daerah Demak dipengaruhi oleh setidaknya dua hal, pertama, keberadaan Kesultanan Demak dan kedua, keberadaan Dewan Dakwah Walisongo. Secara kewilayahan Kesultanan Demak memang berdiri di daerah Demak dengan luas wilayah kekuasannya hampir seluruh tanah Jawa, tetapi posisi para wali dalam Walisongo tidak semuanya menetap dan bergerak hanya di wilayah Demak saat ini.

Terbukti makam para Wali anggota Walisongo tersebar di berbagai daerah seperti misalnya Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kabupaten Kudus, Sunan Ampel di Kota Surabaya, Sunan Gresik dan Sunan Giri di Kota Gresik, Sunan Bonang di Kabupaten Tuban, Sunan Drajat di Kabupaten Lamongan, Sunan Kalijaga di Kabupaten Demak, Sunan Gunungjati di Kabupaten Cirebon.

Destinasi Wisata Religi di Demak

Bagi para pelaku wisata religi yang berziarah ke makam para wali sudah barang tentu tidak akan melewatkan berkunjung ke Kabupaten Demak. Di Demak terdapat makam Sunan Kalijaga yang tepatnya berada di Jalan Raden Sahid Desa Kadilangu, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Meskipun di Demak hanya terdapat satu makam wali anggota Walisongo tetapi sebutan Kota Wali melekat dengan Kabupaten Demak.

Kemungkinan yang melatari hal tersebut adalah karena wilayah Kesultanan Demak Bintoro yang dulu sangat luas yang meskipun wali yang lainnya tinggal di daerah yang lain tetapi tetap berada di bawah naungan wilayah Kesultanan Demak Bintoro. Selain itu Walisongo juga menggunakan Masjid Agung Demak sebagai tempat berkumpul, sehingga artinya para Wali tersebut kerap ke daerah Demak saat ini di masa lalu.

Destinasi lain yang dapat dikunjungi sebagai bagian dalam agenda wisata religi di Kabupaten Demak tentunya adalah Masjid Agung Demak. Di area Masjid Agung Demak terdapat Museum Masjid Agung Demak yang tepatnya berada di sisi utara masjid. Banyak koleksi yang ada di Museum Masjid Agung Demak seperti serat-serat dan kitab kuno yang ditulis oleh para wali. Di antaranya ada kitab tulisan tangan tafsir juz 15-30 Al-Qur’an karya Sunan Bonang.

Terdapat pula artefak terkait Masjid Agung Demak seperti beduk dan kentongan wali dari abad XV, termasuk sakatatal atau saka guru Masjid Agung Demak yang konon dibuat oleh Sunan Kalijaga dari tatal atau potongan kayu kecil. Tersimpan pula pintu bledeg karya Ki Ageng Sela, bahkan gentong Tiongkok dari masa Dinasti Ming dan gentong asal Campa juga masih disimpan di mesum tersebut.

Masih di area Masjid Agung Demak terdapat makam raja-raja Demak yang tepatnya terletak di bagian utara Masjid Agung Demak. Saat memasuki area dalam Masjid Agung Demak, pengunjung yang hendak ke makam raja-raja Demak harus berjalan ke arah kiri sampai serambi yang berada di kolam untuk tempat wudhu. Di pemakaman tersebut antara lain dimakamkan Raden Fatah, Raden Pati Unus, Pangeran Trenggono, Syekh Maulana Maghribi, juga Arya Penangsang.

Di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak terdapat makam Syekh Abdullah Mudzakir yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang juga mensyiarkan agama Islam. Makam Syekh Abdullah Mudzakir terbilang unik dan menakjubkan karena terletak di tengah laut sehingga sering disebut dengan makam terapung. Sejatinya makam Syekh Abdullah Mudzakir berada di daratan seperti makam lainnya, namun karena abrasi sehingga daratan di sekitar makam menjadi tenggelam oleh air.

 

Add Comment